Seorang penjaga toko suatu hari berkata kepada majikannya dengan wajah sumringah. “Pak, kita dapat untung besar! Saya bisa menjual barang dagangan kita dengan harga dua kali lipat dari biasanya.”
Bayangkan jika Anda yang menjadi sang pemilik toko? Apa reaksi spontan Anda?Pada umumnya orang akan langsung bergembira mendengar berita ini tanpa melihat dengan cara apa keuntungan itu diraih. Bahkan, kalau mungkin, sang pegawai akan diberi hadiah, bonus, fee, minimal dipuji-puji.
Atas segala pujian itu, sang penjaga toko boleh jadi terpancing nafsunya untuk lebih melipatgandakan keuntungan. Bahkan, suatu saat kelak, ia pun akan menggunakan cara-cara yang lebih kotor seperti menimbun, memonopoli, atau memalsu.

Utamakan Kesucian

Semua orang ingin untung banyak dan hidup berkecukupan. Namun, jika dihadapkan pada dilema harus memilih antara keuntungan materi atau kesucian hati, orang pun akan bimbang.

Padahal, kedua pilihan itu tidak perlu dipertentangkan. Sebab, setiap orang ingin keduanya selaras, yakni hidup dengan materi berkelimpahan dan hati bersih. Tidak ada seorang pun yang ingin hidup timpang dan kekurangan. Apalagi dengan hati kotor.

Tetapi bila keadaan memaksa harus memilih salah satu dan melepas lainnya, sering kali orang bimbang, mana yang diprioritaskan. Tak jarang ada yang salah mengambil keputusan, yakni lebih mengutamakan keuntungan materi dan mengabaikan kesucian hati. Padahal, keuntungan yang hakiki adalah ketika kesucian hati bisa senantiasa terpelihara. Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) berfirman:

Beruntunglah orang-orang yang menyucikan hatinya. Dan merugilah orang-orang yang mengotorinya. (Asy-Syams [91]: 7-8)

Cerita di atas pernah dialami oleh Abu Hanifah, ulama besar sekaligus pedagang kain yang sukses. Ia juga menerima informasi yang mirip seperti informasi yang diterima sang majikan tadi. Namun, beliau bukannya bergembira, malah menegur pegawainya karena terlalu berlebihan mengambil untung. Tak cukup itu, ia juga meminta pegawainya untuk memanggil si pembeli tadi agar uang yang berlebih bisa dikembalikan.

Begitulah Abu Hanifah, lebih memilih berdagang dengan cara yang jujur. Semua informasi harus jelas, tak ada yang ditutup-tutupi. Bersih dan halal, tak ada penipuan. Kesucian lebih beliau pilih dari pada keuntungan materi yang mengotori hati.

Fitrah Universal

Kecenderungan suci seperti itu sesungguhnya bukan hanya milik Abu Hanifah, tetapi juga fitrah semua orang. Bila mereka disuruh memilih, memakai baju yang suci atau yang terkena najis, pasti lebih nyaman memakai baju yang suci. Jika diminta tinggal di kamar yang suci atau yang kotor, pasti lebih kerasan menempati ruang yang suci. Bila mereka mencari calon istri atau suami, sudah tentu mencari yang masih suci bukan yang telah ternoda.

Kalau hati kita sesuai dengan fitrah, tentunya kita juga akan bersikap seperti Abu Hanifah, yakni lebih memilih kesucian hati. Hanya dengan kesucian hati manusia bisa mendekat kepada Yang Maha Suci (al-Quddus). Kesucian hati yang bisa mendekatkan diri kepada-Nya inilah yang akan melahirkan kebahagiaan hakiki.
Demi menjaga fitrah suci tersebut (fitrah gharizah), Allah SWT telah menurunkan ajaran tauhid (fitrah munazzalah). Batasan halal dan haram diberikan sebagai rambu-rambu agar manusia menapaki jalan yang suci. Semua aturan syariat ditetapkan sebagai arahan agar manusia selamat dalam menjalani hidup ini dan terbebas dari penderitaan.

Itulah sebabnya mengapa fitrah kesucian ini haruslah dipertemukan dengan ajaran tauhid. Allah SWT berfirman:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (Ar-Ruum [30]: 30)

Hati yang suci dengan bimbingan tauhid akan menjadikan hidup manusia berarti. Hubungan vertikal dengan Tuhannya, sebagai hamba, akan sempurna dalam ibadah dan pengabdian hidup. Hubungan horisontalnya dengan sesama, sebagai khalifah fil ardhi (pemimpin di muka bumi), juga akan optimal, yakni memakmurkan bumi dengan nilai-nilai kesucian demi membangun peradaban yang suci.

Kendalikan Hawa Nafsu

Jika dorongan fitrah mengarahkan manusia pada jalan kesucian, dorongan hawa nafsu sebaliknya bisa menjerembabkan manusia pada kekotoran. Karena itu, meski nuraninya tahu bahwa kesucian itu lebih meneteramkan, manusia akan lebih memilih kesenangan duniawi bila hawa nafsu telah mendominasi. Bahkan, lewat cara yang bisa mengotori hatinya.

Seorang pedagang yang mendapat keuntungan secara tidak wajar, pada mulanya akan ditegur oleh nuraninya. Ada perasaan yang mengusik dan membuat hatinya gelisah. Namun karena hawa nafsu lebih tergoda dengan uang di depan mata, suara nurani yang lembut pun diabaikan.

Orang yang selalu mengotori hatinya, nuraninya akan tertutupi. Hidupnya hampa tak bermakna. Jika kaya, akan merana. Bila miskin, lebih tersiksa. Kalau bodoh, ia tersesat. Bila alim, ilmunya tidak bermanfaat. Itulah tragedi yang sering terjadi dalam peradaban yang mengutamakan materi.

Orang yang hatinya kotor karena perbuatan yang haram juga tidak akan didengar doanya oleh Allah SWT. Pernah ada seorang yang menangis dan meratap dalam doa-doanya di depan Kakbah. Namun, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) menyayangkannya. “Bagaimana doanya akan terjawab jika dalam dirinya mengalir darah dari makanan haram. Allah mengabaikan doanya itu,” begitu nasehat beliau. Itulah akibat kotornya hati.

Abu Hurairah RA pernah berkata, “Sesungguhnya orang yang melakukan dosa akan menghitamlah hatinya. Jika ia bertaubat, maka dibersihkanlah hatinya. Itulah makna firman Allah SWT di dalam Surah al-Muthafifin ayat 14: Sekali-kali tidak (demikian). Sebenarnya, apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.”
Manusia yang hatinya bersih akan sangat berhati-hati terhadap segala hal yang bisa menodai hatinya, karena ia merasa khawatir dirinya dan amal ibadahnya tidak akan diterima Allah SWT akibat noda-noda itu.

Seorang ulama salaf pernah mengumandangkan talbiah bersama jamaah haji yang lain, “Labbaik allahumma labbaik (Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah)…” Tiba-tiba ia jatuh pingsan. Saat siuman, jamaah lainnya bertanya sebabnya. Ia menjawab, “Aku khawatir, seruan talbiah saya ditolak Allah.” Subhanallah!
Jadi, janganlah merasa aman beribadah kalau dalam diri ini masih suka bergelimang dengan hal berbau maksiat. “Hisablah dirimu sebelum engkau kelak dihisab,” begitu nasehat Umar bin Khaththab RA.

Bersihkan hati ini dari noda-noda sebelum menghitam dan dibutakan oleh-Nya karena noda-noda tersebut. Bila terlanjur salah, segera ingat Allah SWT, istighfar dan kembali pada jalan kesucian dan kebenaran.

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (Ali Imran [3]: 135)

Kekuatan Hati yang Suci

Kembali pada kisah Abu Hanifah di atas. Pembeli itu akhirnya bisa dipanggil. Abu Hanifah menjelaskan kepadanya kesalahan harga yang dilakukan pegawainya sambil tak lupa meminta maaf. Tapi, pembeli tersebut berkata, “Tuan, saya ridha dengan harga yang telah saya bayar itu.”

Bagaimana sikap Abu Hanifah? Apakah hatinya tenang dengan pernyataan itu? Ternyata tidak. Beliau berkata, “Ya, terimakasih. Mungkin tuan sudah ridha, tapi saya tidak ridha dengan menjual terlalu mahal.”

Uang kelebihan itu pun dikembalikan pada pemiliknya semula. Dikisahkan, pembeli itu teryata bukan seorang Muslim. Karena terpesona dengan prinsip muamalah dan akhlak Abu Hanifah yang teguh dalam menjaga kejujuran dan kesucian itu, ia pun masuk agama suci ini. Wallahu a’lamu bish shawab.

Oleh Hanif Hannan
(Anggota Dewan Syura Hidayatullah)

SUARA HIDAYATULLAH NOEMBER 2009