Senang itu apa? Susah itu apa?
Rasa senang seringkali disamakan dengan rasa bahagia, dan rasa susah seringkali disamakan dengan rasa celaka. Penyamaan arti ini sebagai penyederhanaan boleh-boleh saja, namun jika dikaji lebih lanjut, tentunya ada beda antara senang dan bahagia, antara susah dan celaka.

Rasa senang timbul jika keinginan  tercapai, dan rasa susah timbul jika keinginan tidak tercapai, jadi senang dan susah itu tergantung dari keinginan, bukan tergantung pada keadaan yang terjadi. Keadaan adalah netral, namun sikap terhadap keadaan itu yang tidak netral. Sikap terhadap keadaan itu tergantung dari keinginan.

Saya mungkin akan bersedih (susah) jika besok pagi Ayam saya mati, karena (dalam lubuk hati saya) ada keinginan agar ayam saya tidak mati besok pagi, tetapi apakah tetangga saya akan bersedih? Mungkin tidak, sebab tetangga saya tidak memiliki keinginan apapun terhadap ayam saya, mereka tidak peduli apakah ayam saya hidup atau mati.– tidak punya keinginan ayam saya hidup atau ayam saya mati– Jadi keadaan ayam yang mati, itu dapat menimbulkan sedih, bisa juga tidak menimbulkan rasa apapun, bahkan bisa juga menimbulkan rasa senang (ya misalnya karena ayam saya sering masuk kepekarangan tetangga……)

Saya akan merasa senang jika besok tanggal 1 saya menerima gaji, karena saya menginginkan uang itu untuk membayar beberapa kebutuhan saya. Tetapi teman saya tidak merasa senang (atau susah) apabila saya menerima gaji di tanggal 1, teman saya tidak memiliki keinginan terhadap uang gaji itu.

Sekali lagi, keadaan adalah netral, yang membuat kita senang atau susah ketika ada keadaan tertentu adalah ada atau tidak ada keinginan dalam diri kita. Sehingga, salah satu cara untuk menghindari kesusahan adalah dengan mengendalikan keinginan.

Bagaimana mengendalikan keinginan? Apakah keinginan perlu ‘ditiadakan’? Wah.. Ini agak rumit, sebab ‘mengendalikan keinginan’ juga merupakan sebuah keinginan.

Perlu renungan mendalam untuk memaknai ini.

ide di kutip dari : ilmubahagia